Ditinjau dari segi bahasa, ilmu
nahwu banyak memiliki definisi di antaranya ada yang bermakna arah, tujuan, dan
juga perumpamaan. Sedangkan bila ditinjau dari segi istilahnya, ilmu nahwu
adalah mengetahui kaidah-kaidah yang berkaitan dengan akhir kalimat Arab baik
pada waktu mu’rab ataupun mabni. Dinamai ilmu nahwu karena
ketika Sayyidina Ali meng-imla’ kepada Syekh Abul Aswad tentang kalimat,
bagiannya kalimat, fail, dan maf’ul, beliau berkata pada Abul Aswad " أُنْحُ
هَذَالنَّحْوَ" yang artinya tirulah contoh ini. Oleh
karenanya ilmu tersebut diberinama ilmu nahwu. Ulama sangat mementingkan
belajar ilmu nahwu karena dengannya seseorang bisa mengetahui makna yang sebenarnya
dari kalam-kalam Arab, hadis-hadis Nabi, terlebih makna al-Quran yang menjadi
sumber segala ilmu. Maka tak ayal Syekh Imriti menulis dalam kitabnya “Nahwu
merupakan ilmu yang pertama kali harus diketahui karena tanpanya kalam Arab tidak
mungkin difaham.”
Perkembangan ilmu nahwu kian
pesat setelah munculnya imam yang sangat pandai dalam ilmu tersebut. Ia adalah
Imam Sibawaih. Bahkan disebutkan dalam sebuah kitab yang berjudul al-Kitab
karya Amr bin Utsman bin Qanbar bahwa pertama kalinya kitab nahwu yang sampai
pada kita adalah kitabnya Imam Sibawaih. Sehingga tidak bisa dipungkiri jika seseorang
menyebut ilmu nahwu, maka nama Imam Sibawaih yang muncul pertama kali dalam
pembahasan ilmu tersebut. Beliau lahir sekitar abad kedua hijriyah. Imam
az-Zarkali memastikan bahwa beliau lahir pada tahun 148 H atau bertepatan
dengan 765 M, dan wafat pada tahun 180 H.
Ilmu nahwu lahir pertama kali di
kota Basrah atas inisiatif Sayyidina Ali yang memerintah Abul Aswad dan selanjutnya
diteruskan oleh murid-murid beliau. Di antara yang mengaji langsung kepada Abul
aswad adalah putranya sendiri, yaitu Atha’ dan juga Yahya bin Ya’mar, Maimun al-Aqran,
Nasr bin Ashim dan Abu Nauval. Di samping itu ulama Kufah masih sibuk dengan
meriwayatkan hadis, syair dan belajar al-Quran. Baru beberapa tahun kemudian ulama Kufah
juga memperlajari ilmu nahwu. Imam Al-Kisa’ilah yang menjadi pelopor
pertama pembelajaran ilmu nahwu di Kufah setelah banyak berguru kepada ulama Basrah.
Setelah Imam al-Kisa’i
banyak melahirkan pendekar dalam ilmu nahwu, barulah ulama Kufah membuat metode
sendiri dalam
ilmu nahwu. Sehingga sesuatu yang oleh ulama Basrah dianggap darurat, oleh
ulama Kufah dibuatkan kaidah. Sehingga banyak sekali kaidah-kaidah nahwu di kalangan
ulama Kufah.
Setelah mazhab Basrah dan Kufah,
lahir mazhab baru yaitu Bagdad. Mazhab yang menengah-nengahi antara Basrah dan Kufah.
Ulama Bagdad sangat memperhatikan
terhadap pembelajaran ilmu ini. Sehingga dikalangan mereka banyak yang memperjelas dan memerinci
ilmu nahwu. Setelah lahirnya tiga mazhab yaitu Basrah, Kufah, dan
Baghdad, lahir kembali mazhab baru di Andalus. Mereka membuat mazhab tersendiri
setelah banyak belajar ke Basrah, Kufah, dan Baghdad. Sehingga
banyak melahirkan tokoh-tokoh handal dalam ilmu nahwu. Ada sekitar 712 ulama
yang lahir di kota Andalus. Di antara yang paling masyhur adalah Imam Ibnu
Malik (600 H-672 H) yang mempunyai nama lengkap Muhammad bin Abdillah bin
Abdillah bin Malik dengan kitab al-Fiyah-nya yang memuat seribu bait. Beliau merupakan
salah satu imam terkemuka dalam bidang ilmu nahwu. Sampai-sampai
beliau dijuluki lautan yang tak bertepi dan tinta yang tak pernah habis. Ada juga
Imam Muhammad bin Muhammad bin Dawud yang terkenal dengan Ibnu Ajurumi. Beliau lahir
pada tahun 672 H dan wafat pada tahun 723 H. beliau termasuk imam yang banyak
berjasa dalam ilmu nahwu. Kitab monomentalnya, matan Jurmiyah yang
banyak disyarahi oleh ulama. Ada sekitar tujuh belas ulama yang mensyarahi
kitab beliau. Konon beliau mengarang kitab tersebut di depan Ka’bah. Dalam
riwayat yang lain dijelaskan ketika beliau mengarang kitab Jurmiyah beliau
meletakkan kitab itu di lautan seraya berkata “Jika saya ikhlas mengarang
kitab ini, maka ia tidak akan basah.” Ternyata benar, kitab tersebut tidak
basah sedikitpun. Hal itu menunjukkan, bahwa beliau benar-benar ikhlas dalam
mengarang kitab tersebut.
Terakhir adalah madzab Mesir yang
juga melahirkan banyak tokoh dalam ilmu nahwu. Di ataranya adalah Ibnul Hajib, Ibnu
Aqil, Asymuni, Imam as-Suyuti, as-Shaban, Abu Jakfar An-Nuhas, dan tak
ketinggalan Imam Ibnu Hisyam dengan karangan kitabnya Audhahul-Masalik fi Syarhi
al-Fiyah Ibnu Malik Beliau lahir pada tahun 708 H dan wafat pada tahun 763
H. Beliau termasuk orang yang sangat mahir dalam ilmu nahwu sehingga Ibnu Khaldun
memujinya “Aidaikan ia hidup di zaman Imam Sibawaih, ia akan jadi saingannya
dalam ilmu nahwu.”

