Kodifikasi Ilmu Nahwu


Sejarah mencatat bahwa awal mula terbentuknya ilmu nahwu adalah ketika Abul Aswad ad-Duali bercengkerama dengan putrinya. “"مَا اَجْمَلُ هَذَاالسَّمَاءَ dengan membaca dhammah huruf lamnya ajmala yang membuat arti kata tersebut, Apakah yang memperindah langit ini? Sang ayah lantas menjawab “Yang memperindah adalah bintang. “Bukan itu yang saya maksud” putrinya menyanggah. “Lantas apa ?” Tanya Sang ayah. “Yang saya maksud adalah betapa indahnya langit ini.” Kemudian Abul Aswad memberi tahu putrinya jika memang yang dimaksudkan adalah untuk bermakna Ta’ajjub atau heran, seharusnya lamnya ajmala dibaca fathah bukan dibaca dhammah. Sang ayahpun mengadukan hal ini kepada Sayyidina Ali RA. Hingga membuat beliau tertegun dan berfikir sejenak. Pada akhirnya beliau memerintah Abul Aswad untuk membuat kitab tentang kalam Arab. Maka sejak saat itulah dibentuklah kitab nahwu.

Ditinjau dari segi bahasa, ilmu nahwu banyak memiliki definisi di antaranya ada yang bermakna arah, tujuan, dan juga perumpamaan. Sedangkan bila ditinjau dari segi istilahnya, ilmu nahwu adalah mengetahui kaidah-kaidah yang berkaitan dengan akhir kalimat Arab baik pada waktu mu’rab ataupun mabni.  Dinamai ilmu nahwu karena ketika Sayyidina Ali meng-imla’ kepada Syekh Abul Aswad tentang kalimat, bagiannya kalimat, fail, dan maf’ul, beliau berkata pada Abul Aswad " أُنْحُ هَذَالنَّحْوَ" yang artinya tirulah contoh ini. Oleh karenanya ilmu tersebut diberinama ilmu nahwu. Ulama sangat mementingkan belajar ilmu nahwu karena dengannya seseorang bisa mengetahui makna yang sebenarnya dari kalam-kalam Arab, hadis-hadis Nabi, terlebih makna al-Quran yang menjadi sumber segala ilmu. Maka tak ayal Syekh Imriti menulis dalam kitabnya “Nahwu merupakan ilmu yang pertama kali harus diketahui karena tanpanya kalam Arab tidak mungkin difaham.”

Perkembangan ilmu nahwu kian pesat setelah munculnya imam yang sangat pandai dalam ilmu tersebut. Ia adalah Imam Sibawaih. Bahkan disebutkan dalam sebuah kitab yang berjudul al-Kitab karya Amr bin Utsman bin Qanbar bahwa pertama kalinya kitab nahwu yang sampai pada kita adalah kitabnya Imam Sibawaih. Sehingga tidak bisa dipungkiri jika seseorang menyebut ilmu nahwu, maka nama Imam Sibawaih yang muncul pertama kali dalam pembahasan ilmu tersebut. Beliau lahir sekitar abad kedua hijriyah. Imam az-Zarkali memastikan bahwa beliau lahir pada tahun 148 H atau bertepatan dengan 765 M, dan wafat pada tahun 180 H.

Ilmu nahwu lahir pertama kali di kota Basrah atas inisiatif Sayyidina Ali yang memerintah Abul Aswad dan selanjutnya diteruskan oleh murid-murid beliau. Di antara yang mengaji langsung kepada Abul aswad adalah putranya sendiri, yaitu Atha’ dan juga Yahya bin Ya’mar, Maimun al-Aqran, Nasr bin Ashim dan Abu Nauval. Di samping itu ulama Kufah masih sibuk dengan meriwayatkan hadis, syair dan belajar al-Quran. Baru beberapa tahun kemudian ulama Kufah juga memperlajari ilmu nahwu. Imam Al-Kisa’ilah yang menjadi pelopor pertama pembelajaran ilmu nahwu di Kufah setelah banyak berguru kepada ulama Basrah. Setelah Imam al-Kisa’i banyak melahirkan pendekar dalam ilmu nahwu, barulah ulama Kufah membuat metode sendiri dalam ilmu nahwu. Sehingga sesuatu yang oleh ulama Basrah dianggap darurat, oleh ulama Kufah dibuatkan kaidah. Sehingga banyak sekali kaidah-kaidah nahwu di kalangan ulama Kufah.

Setelah mazhab Basrah dan Kufah, lahir mazhab baru yaitu Bagdad. Mazhab yang menengah-nengahi antara Basrah dan Kufah. Ulama Bagdad sangat memperhatikan terhadap pembelajaran ilmu ini. Sehingga dikalangan mereka banyak yang memperjelas dan memerinci ilmu nahwu. Setelah lahirnya tiga mazhab yaitu Basrah, Kufah, dan Baghdad, lahir kembali mazhab baru di Andalus. Mereka membuat mazhab tersendiri setelah banyak belajar ke Basrah, Kufah, dan Baghdad. Sehingga banyak melahirkan tokoh-tokoh handal dalam ilmu nahwu. Ada sekitar 712 ulama yang lahir di kota Andalus. Di antara yang paling masyhur adalah Imam Ibnu Malik (600 H-672 H) yang mempunyai nama lengkap Muhammad bin Abdillah bin Abdillah bin Malik dengan kitab al-Fiyah-nya yang memuat seribu bait. Beliau merupakan salah satu imam terkemuka dalam bidang ilmu nahwu. Sampai-sampai beliau dijuluki lautan yang tak bertepi dan tinta yang tak pernah habis. Ada juga Imam Muhammad bin Muhammad bin Dawud yang terkenal dengan Ibnu Ajurumi. Beliau lahir pada tahun 672 H dan wafat pada tahun 723 H. beliau termasuk imam yang banyak berjasa dalam ilmu nahwu. Kitab monomentalnya, matan Jurmiyah yang banyak disyarahi oleh ulama. Ada sekitar tujuh belas ulama yang mensyarahi kitab beliau. Konon beliau mengarang kitab tersebut di depan Ka’bah. Dalam riwayat yang lain dijelaskan ketika beliau mengarang kitab Jurmiyah beliau meletakkan kitab itu di lautan seraya berkata “Jika saya ikhlas mengarang kitab ini, maka ia tidak akan basah.” Ternyata benar, kitab tersebut tidak basah sedikitpun. Hal itu menunjukkan, bahwa beliau benar-benar ikhlas dalam mengarang kitab tersebut.

Terakhir adalah madzab Mesir yang juga melahirkan banyak tokoh dalam ilmu nahwu. Di ataranya adalah Ibnul Hajib, Ibnu Aqil, Asymuni, Imam as-Suyuti, as-Shaban, Abu Jakfar An-Nuhas, dan tak ketinggalan Imam Ibnu Hisyam dengan karangan kitabnya Audhahul-Masalik fi Syarhi al-Fiyah Ibnu Malik Beliau lahir pada tahun 708 H dan wafat pada tahun 763 H. Beliau termasuk orang yang sangat mahir dalam ilmu nahwu sehingga Ibnu Khaldun memujinya “Aidaikan ia hidup di zaman Imam Sibawaih, ia akan jadi saingannya dalam ilmu nahwu.”

Abdur Rohim/
Reactions