Pendaftaran Online Santri/Murid Baru
KETENTUAN PENDAFTARAN ONLINE PONDOK PESANTREN TODUNGIH A. PROSES PENDAFTARAN 1. Klik tombo…
KETENTUAN PENDAFTARAN ONLINE PONDOK PESANTREN TODUNGIH A. PROSES PENDAFTARAN 1. Klik tombo…

KETENTUAN DAN SYARAT PENDAFTARAN
A. Ketentuan Umum
B. Ketentuan Lain
1. WAKTU DAN TEMPAT PENDAFTARAN
2. MATERI TES MASUK MJF
Kelas V Ibtidaiyah
Kelas VI Ibtidaiyah
Kelas 1 Tsanawiyah
Kelas 2 Tsanawiyah
Kelas 3 Tsanawiyah
Kelas I Aliyah
4. BIAYA PENDAFTARAN
Bagi santri baru ada beberapa jenis biaya yang harus dikeluarkan :
1) Pangkal Masuk : Rp. 50.000
2) Uang Gedung : Rp. 100.000
3) Biaya Administrasi : Rp. 50.000
4) Sarana Makhadiyah : Rp. 50.000
Jumlah : Rp. 250.000,-
Sedangkan biaya pendaftaran murid baru sebesar Rp. 200.000 (No. 1 s.d 3) :
5. UANG TAHUNAN
(Berlaku untuk untuk semua santri/murid baik lama maupun baru)
Uang tahunan adalah biaya pendidikan yang harus dibayar selama satu tahun meliputi :
1. Uang Ianah Masalah
2. Operasional & Iuran Milad
3. Iuran Akhir Tahun
Ketiganya diakumulasi menjadi satu pembayaran dan disebut dengan istilah "Uang Tahunan" dengan tahapan pembayaran sebagaimana berikut :
|
NO |
URAIAN |
JENJANG |
|
|
TKA |
I’DAD |
||
|
1 |
Ianah Maslahah |
252.000 |
480.000 |
|
2 |
OpOperasional & Milad |
200.000 |
200.000 |
|
3 |
Iuran Akhir Tahun |
100.000 |
100.000 |
|
Jumlah Akumulasi |
552.000 |
780.000 |
|
|
Tahapan pembayaran |
184.000 |
260.000 |
|
|
3 Sesi |
3 Sesi |
||
|
Akhir Pembayaran,
10 Hari sebelum Imda |
|||
|
NO |
URAIAN |
JENJANG |
|
|
IBT |
TS |
||
|
1 |
Ianah Maslahah |
450.000 |
501.000 |
|
2 |
Operasional & Milad |
200.000 |
200.000 |
|
3 |
Iuran Akhir Tahun |
100.000 |
100.000 |
|
Jumlah Akumulasi |
750.000 |
801.000 |
|
|
Tahapan pembayaran |
250.000 |
267.000 |
|
|
3 Sesi |
3 Sesi |
||
|
Akhir Pembayaran,
10 Hari sebelum Imda |
|||
|
NO |
URAIAN |
JENJANG |
TAHFIDZ QUR'AN |
|
ATM |
|||
|
1 |
Ianah Maslahah |
550.000 |
|
|
2 |
Operasional & Milad |
200.000 |
|
|
3 |
Iuran Akhir Tahun |
100.000 |
|
|
Jumlah Akumulasi |
850.000 |
100.000 |
|
|
Tahapan pembayaran |
425.000 |
50.000 |
|
|
2 Sesi |
2 Sesi |
||
|
Akhir, 10 Hari sebelum Semester |
|
||
Ditinjau dari segi bahasa, ilmu
nahwu banyak memiliki definisi di antaranya ada yang bermakna arah, tujuan, dan
juga perumpamaan. Sedangkan bila ditinjau dari segi istilahnya, ilmu nahwu
adalah mengetahui kaidah-kaidah yang berkaitan dengan akhir kalimat Arab baik
pada waktu mu’rab ataupun mabni. Dinamai ilmu nahwu karena
ketika Sayyidina Ali meng-imla’ kepada Syekh Abul Aswad tentang kalimat,
bagiannya kalimat, fail, dan maf’ul, beliau berkata pada Abul Aswad " أُنْحُ
هَذَالنَّحْوَ" yang artinya tirulah contoh ini. Oleh
karenanya ilmu tersebut diberinama ilmu nahwu. Ulama sangat mementingkan
belajar ilmu nahwu karena dengannya seseorang bisa mengetahui makna yang sebenarnya
dari kalam-kalam Arab, hadis-hadis Nabi, terlebih makna al-Quran yang menjadi
sumber segala ilmu. Maka tak ayal Syekh Imriti menulis dalam kitabnya “Nahwu
merupakan ilmu yang pertama kali harus diketahui karena tanpanya kalam Arab tidak
mungkin difaham.”
Perkembangan ilmu nahwu kian
pesat setelah munculnya imam yang sangat pandai dalam ilmu tersebut. Ia adalah
Imam Sibawaih. Bahkan disebutkan dalam sebuah kitab yang berjudul al-Kitab
karya Amr bin Utsman bin Qanbar bahwa pertama kalinya kitab nahwu yang sampai
pada kita adalah kitabnya Imam Sibawaih. Sehingga tidak bisa dipungkiri jika seseorang
menyebut ilmu nahwu, maka nama Imam Sibawaih yang muncul pertama kali dalam
pembahasan ilmu tersebut. Beliau lahir sekitar abad kedua hijriyah. Imam
az-Zarkali memastikan bahwa beliau lahir pada tahun 148 H atau bertepatan
dengan 765 M, dan wafat pada tahun 180 H.
Ilmu nahwu lahir pertama kali di
kota Basrah atas inisiatif Sayyidina Ali yang memerintah Abul Aswad dan selanjutnya
diteruskan oleh murid-murid beliau. Di antara yang mengaji langsung kepada Abul
aswad adalah putranya sendiri, yaitu Atha’ dan juga Yahya bin Ya’mar, Maimun al-Aqran,
Nasr bin Ashim dan Abu Nauval. Di samping itu ulama Kufah masih sibuk dengan
meriwayatkan hadis, syair dan belajar al-Quran. Baru beberapa tahun kemudian ulama Kufah
juga memperlajari ilmu nahwu. Imam Al-Kisa’ilah yang menjadi pelopor
pertama pembelajaran ilmu nahwu di Kufah setelah banyak berguru kepada ulama Basrah.
Setelah Imam al-Kisa’i
banyak melahirkan pendekar dalam ilmu nahwu, barulah ulama Kufah membuat metode
sendiri dalam
ilmu nahwu. Sehingga sesuatu yang oleh ulama Basrah dianggap darurat, oleh
ulama Kufah dibuatkan kaidah. Sehingga banyak sekali kaidah-kaidah nahwu di kalangan
ulama Kufah.
Setelah mazhab Basrah dan Kufah,
lahir mazhab baru yaitu Bagdad. Mazhab yang menengah-nengahi antara Basrah dan Kufah.
Ulama Bagdad sangat memperhatikan
terhadap pembelajaran ilmu ini. Sehingga dikalangan mereka banyak yang memperjelas dan memerinci
ilmu nahwu. Setelah lahirnya tiga mazhab yaitu Basrah, Kufah, dan
Baghdad, lahir kembali mazhab baru di Andalus. Mereka membuat mazhab tersendiri
setelah banyak belajar ke Basrah, Kufah, dan Baghdad. Sehingga
banyak melahirkan tokoh-tokoh handal dalam ilmu nahwu. Ada sekitar 712 ulama
yang lahir di kota Andalus. Di antara yang paling masyhur adalah Imam Ibnu
Malik (600 H-672 H) yang mempunyai nama lengkap Muhammad bin Abdillah bin
Abdillah bin Malik dengan kitab al-Fiyah-nya yang memuat seribu bait. Beliau merupakan
salah satu imam terkemuka dalam bidang ilmu nahwu. Sampai-sampai
beliau dijuluki lautan yang tak bertepi dan tinta yang tak pernah habis. Ada juga
Imam Muhammad bin Muhammad bin Dawud yang terkenal dengan Ibnu Ajurumi. Beliau lahir
pada tahun 672 H dan wafat pada tahun 723 H. beliau termasuk imam yang banyak
berjasa dalam ilmu nahwu. Kitab monomentalnya, matan Jurmiyah yang
banyak disyarahi oleh ulama. Ada sekitar tujuh belas ulama yang mensyarahi
kitab beliau. Konon beliau mengarang kitab tersebut di depan Ka’bah. Dalam
riwayat yang lain dijelaskan ketika beliau mengarang kitab Jurmiyah beliau
meletakkan kitab itu di lautan seraya berkata “Jika saya ikhlas mengarang
kitab ini, maka ia tidak akan basah.” Ternyata benar, kitab tersebut tidak
basah sedikitpun. Hal itu menunjukkan, bahwa beliau benar-benar ikhlas dalam
mengarang kitab tersebut.
Terakhir adalah madzab Mesir yang
juga melahirkan banyak tokoh dalam ilmu nahwu. Di ataranya adalah Ibnul Hajib, Ibnu
Aqil, Asymuni, Imam as-Suyuti, as-Shaban, Abu Jakfar An-Nuhas, dan tak
ketinggalan Imam Ibnu Hisyam dengan karangan kitabnya Audhahul-Masalik fi Syarhi
al-Fiyah Ibnu Malik Beliau lahir pada tahun 708 H dan wafat pada tahun 763
H. Beliau termasuk orang yang sangat mahir dalam ilmu nahwu sehingga Ibnu Khaldun
memujinya “Aidaikan ia hidup di zaman Imam Sibawaih, ia akan jadi saingannya
dalam ilmu nahwu.”
Menjadi pemimpin tidak membuat beliau hidup mewah. Beliau tetap hidup zuhud. Suatu ketika Raja’ bin Hayawat al-Kindi menginap di rumah Umar bin Abdul Aziz, kemudian lampu yang ada di rumah sang khalifah hamper mati kemudian Raja’ berdiri bermaksud untuk memperbaiki lampu tersebut. Namun oleh Umar di cegah dan beliau meminta Raja’ untuk duduk kembali di tempatnya. Dan Umar membenahi sendiri lampu tersebut hingga membuat Raja’ terheran “ engkau membetulkan sendiri wahai Amirul mu’minin?” beliau menjawab “Dalam keadaan berdiri ataupun duduk saya tetaplah Umar”
Dan juga yang menjadi bukti akan kezuhudan beliau adalah suatu riwayat yang menjelaskan bahwa, Suatu ketika beliau berpidato dan pakaian yang dikenakan baliau begitu sederhana diperkirakan hanya seharga dua belas dirham. Harga yang samgat tidak cocok untuk sekelas pemimpin Umar bin Abdul Aziz. Namun, seperti itulah beliau memilih hidup apa adanya dan zuhud terhadap dunia.
Nama lengkap beliau adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin Abil Âs al-Umawi. Ibunya adalah Ummu Ashim binti Âshim bin Sayyidina Umar al-Khattab. Beliau meninggal pada bulan Rajab tahun seratur satu pada waktu berumur empat puluh tahun sedangkan masa khilafah beliau adalah dua setengah tahun. Dalam kitab Syariatullah al-Khalidah Syekh Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani menyebutkan bahwa ketika berita kematian Umar bin Abdul Aziz sampai kepada Hasan Basri, beliau berkata “telah meninggal manusia terbaik”
Di dalam sebuah riwayat Syekh Khotib al-Baghdadi menyebutkan bahwa suatu ketika Umar bin Abdul Aziz melakukan perjalanan. Ketika sampai di tengah jalan beliau menemukan ular hitam yang meninggal, Umar bergegas turun dari kendaraannya dan mengubur ular tersebut. Tiba-tiba terdengar suara. “Wahai orang yang telah memendamku saya pernah mendengar Rasulullah bersabda kepadaku engkau akan mati di padang sahara dan engkau akan dikuburkan oleh orang terbaik pada masa itu” ular itu juga mengatakan bahwa ia termasuk salah satu dari sembilan orang yang telah melakukan baiat kepada Rasulullah dan beliau memberitahukan bahwa dia akan mati di padang sahara dan akan dikubur oleh orang terbaik pada masa itu. Umar bin Abdul Aziz pun menangis hingga membuat beliau hampir jatuh dari kendaraannya seraya berkata pada temannya “Jangan pernah kau ceritakan hal ini kepada siapapun hingga aku mati”
Beliau juga termasuk pemimpin yang sangat bijaksana. Terbukti dalam subuah kitab disebutkan bahwa suatau ketika Jarah bin Abdillah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz memberitahukan bahwa perangai penduduk khurasan kurang baik dan mereka akan tunduk kalau sudah di hajar dengan pedang ataupun dengan cambuk. Lantar Umar bin Abdul Aziz menepis anggapan itu dan mengatakan pada Jarah bahwa yang dapat memperbaiki mereka adalah keadilan dan kebenaran. Maka sebarkanlah keduanya. Selain itu Beliau termasuk pertama kalinya orang yang menjadi ulama sekaligus umara (Pemimpin)
Abdur rohim
BMF (Bahtsul Masail Fiqhiyah) Pondok pesantren Todungih telah digelar pada malam Selasa 29 safar 1446 H, Yang bertempat di halaman Gedung Ibnu Khaldun. kegiatan bahtsul Masail ini merupakan agenda tahunan Pondok Pesantren Tidungih yang dilaksanakan sebanyak dua kali, pasca IMDA I dan pasca IMDA III. Adapun tujuan di adakannya kegiatan ini antara lain untuk memotivasi santri agar lebih semangat dalam bermusyawaroh dan terus mengasah kemampuan mereka dalam memahami secara mendalam terhada kitab-kitab salaf warisan para ulama'.Dalam kegiatan Bahtsul Masail yang dilaksanakan pasca imda I ini pengurus mengundang semua instansi baik makhadiyah maupun madrasiah dan juga perwakilan dari kelas mulai kelas 6 ibtidaiyah sampai kelas 3 aliyah. Bertindak sebagai moderator adalah Ustad Zubair Husnan (Staf Pengajar MJF) dan R. Muhammad Kholid Rosyad (Kepala Batartama) sedangkan Muharrir dan Musohhih adalah Ustad Lukman Hakim (Staf Pengajar MJF, Katib MWCNU Proppo & Perumus BM di PCNU Pamekasan)
Alhamdulillah acara berlangsung dengan lancar dan penuh antusias dari para peserta hingga penghujung acara. Kurang lebih ada 4 asilah yang diamanahi oleh panitia namun yang terbahas hanya dua masalah karena keterbatasan waktu dan diakhir acara Dewan Musohhih, Ustad Lukman hakim menyampaikan apresiasi terhadap perkembangan cara santri Pondok pesantren Todungih dalam membahas masalah "Kemampuan santri di Pondok Pesantren Todungih sudah mulai ada peningkatan dari pada tahun-tahun sebelumnya baik dalam mebaca kitabnya dan cara mencari takbir sudah ada perkembangan untuk menuju lebih baik"
Masih menurut Ustad Lukman, cara pandai mengikuti Bahtsul Masail, diantara syaratnya adalah :
1. Harus bisa baca kitab
2. Sering membaca kitab
3. Bisa mendefinisikan masalah atau tahqiqul masalah, jadi klau ada masalah maka harus di definisikan dulu masuk pada masalah atau bab apa? lalu kalau sudah tahu devinisinya maka dicari di kitab-kitab salaf lansung pada babnya kalau tidak ada cari persamaannya dan perlu diketahui bahwa kitab itu ada yang muktabaroh ada yang tidak, terutama di maktabah syamilah kita harus antisipasi terhadap kitab-kitab karya ibnu taymiyah, wahabi, syiah atau kitab-kitab kontemporer sperti kitab mausuah-mausuah kan ada rujukannya kita harus cari rujukannya langsung waspada pada fatwa-fatea yangg nyeleneh harus hati-hati atau juga kumpulan masalah-masalah" kata beliau.
Kemudian acara ini ditutup oleh moderator dan diakhiri dengan do'a khitamul majelis.
Penulis : Moh. Syarif Hidayatullah
Editor : Achmad Maushul
Maka berhati-hatilah bagi orang alim ataupun pemimpin yang dijadikan
panutan oleh masyarakat. Terlebih masyarakat awam yang fanatik buta, tidak
pernah mengetahui hukum maupun dalilnya. Mereka hanya berpedoman pada orang
yang mereka anggap sebagai tokoh bagi dirinya. Ketika menjadi orang alim, jangan
sampai memberi fatwa atau melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan tuntunan
syariat. Ketika menjadi pemimpin jangan sampai memberi kebijakan yang
berlawanan dengan hukum Islam. Ketika menjadi idola, jangan sampai memberi
contoh yang tidak baik terhadap fans-nya. Karena bagaimanapun, seorang tokoh,
pemimpin maupun idola akan terus menjadi contoh bagi mereka yang ada di
bawahnya. Sehingga ketika contoh itu berupa hal-hal yang tidak baik, maka yang
memberi contoh akan mendapatkan tambahan saldo kejelekan dalam catatan amalnya.
Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam
Muslim dari Jarir bin Abdillah al-Bajli Rasulullah bersabda “Barang siapa memberi
contoh baik, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang
mengerjakan setelahnya tanpa kurang sedikitpun. Dan barang siapa memberi contoh
yang jelek, maka dia akan memperoleh dosanya dan dosa orang yang mengerjakan
setelahnya tanpa kurang sedikitpun.” Di dalam hadis lain yang diriwayatkan
oleh Imam Abu Hurairah Rasulullah bersabda “Barang siapa mengajak pada
kebaikan, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mengerjakan setelahnya. Dan barang siapa
yang mengajak pada kejelekan, maka ia memperoleh dosanya dan dosa orang yang
mengerjakan setelahnya.”
Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul-Barinya menjelaskan bahwa Imam
Muhallab berkata “Hadis ini menjadi peringatan agar jangan sampai melakukan
hal-hal yang menyesatkan ataupun hal-hal baru dalam agama Islam yang menyalahi
terhadap syariat.” Beliau juga menuturkan bahwa orang yang melakukan
hal-hal baru dalam Islam dan menyalahi terhadap syariat terkadang menganggap
remeh hal tersebut. Mereka tidak memikirkan mafsadah yang akan terjadi
setelahnya, yakni jika ada orang lain meniru pekerjaan tersebut, maka ia juga
akan medapatkan dosa sesuai dengan apa yang dilakukan oleh orang yang
menirunya.
Di dalam surah an-Nahl ayat 25 Allah SWT berfirman yang artinya “(Ucapan
mereka) menyebabkan mereka pada hari kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara
sempurna, dan
dosa-dosanya orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa
mereka disesatkan), ingatlah alangkah buruknya (dosa) yang mereka pikul.” Imam at-Thabari
dalam tafsirnya menjelaskan bahwa para pemimpin yang mengajak terhadap kejelekan
ia ikut menanggung dosa orang yang mengikutinya tanpa berkurang sedikitpun.
Di dalam Surah Yasin ayat 12 Allah berfirman yang artinya “Dan Kami-lah
yang mencatat apa yang mereka lakukan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan)”
Syekh Hamami dalam Tafsir Surah
Yasin menjelaskan bahwa sebagian ulama menafsiri atsar dalam ayat
tersebut dengan pekerjaan baik ataupun jelek yang tetap dikerjakan oleh orang
setelahnya. Imam al-Ghazali juga menafsiri atsar dengan amal-amal yang
tetap dikerjakan meskipun orangnya telah tiada. Oleh karena itu ada dua tugas
berat yang harus dipikul oleh orang alim, penguasa maupun idola. Selain harus
menjahui perbuatan dosa, ia juga harus menyamarkannya. Karena jika sampai diikuti
oleh orang yang setelahnya, maka ia ikut menanggung dosanya. Maka alangkah
beruntungnya orang yang meninggal dan ikut meninggal pula kejelekannya. Dan betapa
celakanya orang yang meninggal, tetapi tetap hidup kejelekannya.